Quality Function Development

Quality Function Deployment (QFD)

Makalah ini dikerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu










Dosen Pembimbing :
Akh. Yunan Athoillah, M.Si.

Disusun Oleh :
1.     Risa Ekawati / G03216019
2.     Ike Putri H. / G73216039
3.     Nita Amelia / G73216079


PRODI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2018





Assalamualaikum. Wr. Wb
            Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia dan melimpahkan rahmat,serta bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Quality Function Deployment” ini tepat pada waktunya. Tidak lupa shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

            Dalam penyusunan makalah ini kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari semua pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
            Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi kami dan mendapatkan ridho Allah SWT. Amin.


Surabaya, 4 Oktober 2018


Tim Penyusun
















1.1  Latar Belakang

Di era globalisasi saat ini, persaingan bisnis semakin ketat. Perusahaan harus mampu menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas agar dapat bersaing dengan para pesaingnya. Untuk itu, setiap perusahaan pasti berusaha semaksimal mungkin agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen melalui produk atau jasa yang dihasilkan sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen dan kemudian dapat berkelanjutan menjadi pelanggan.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah adanya Total Quality Management (TQM) yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan. Salah satu metode yang digunakan untuk mewujudkan TQM adalah Quality Function Deployment (QFD) dengan meningkatkan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, baik dari desain, fungsi maupun manfaat produk atau jasa tersebut bagi konsumen.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Quality Function Deployment ?
2.      Bagaimana tahapan Quality Function Deployment ?
3.      Apakah manfaat dari Quality Function Deployment ?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari Quality Function Deployment
2.      Untuk mengetahui tahapan Quality Function Deployment
3.      Untuk mengetahui manfaat dari Quality Function Deployment




2.1  Pengertian Quality Function Deployment

Quality Function Deployment (QFD) adalah suatu metode yang digunakan untuk melaksanakan Total Quality Management (TQM). QFD diperkenalkan oleh Yoji Akao pada tahun 1972 yang diterapkan oleh Mitsubishi.  Fokus utama dari QFD yaitu melibatkan pelanggan pada proses pengembangan produk sedini mungkin. Filosofi yang mendasarinya adalah bahwa pelanggan tidak akan puas dengan suatu produk meskipun produk yang dihasilkan sempurna. Dengan kata lain, bahwa produk yang sempurna belum tentu dibutuhkan oleh konsumen.[1]
Menurut Subagyo (2000), QFD adalah suatu cara untuk meningkatkan kualitas barang atau jasa dengan memahami kebutuhan konsumen, lalu menghubungkannya dengan ketentuan teknis untuk menghasilkan barang atau jasa di tiap tahap pembuatan barang atau jasa yang dihasilkan.[2]
Menurut Cohen (1995), QFD adalah metode terstruktur yang digunakan dalam proses perencanaan dan pengembangan produk untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta mengevaluasi secara sistematis kapabilitas suatu produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.[3]
Sedangkan menurut Mazur (2003), QFD merupakan satu-satunya sistem mutu bersifat komprehensif yang bertujuan secara spesifik, yaitu memaksimalkan kepuasaan konsumen dengan mencari kebutuhan konsumen, baik yang jelas maupun yang terucap oleh konsumen. Kebutuhan konsumen tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan dan rancangan dalam perusahaan.[4]
Berdasarkan pengertian diatas, QFD berarti suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menentukan prioritas kebutuhan dan keinginan konsumen, kemudian menggabungkan kebutuhan dan keinginan tersebut dalam produk atau jasa yang disediakan bagi konsumen.
QFD digunakan untuk memperbaiki proses, perencanaan, mengatasi permasalahan dalam suatu tim, serta membantu mengadakan perbaikan terhadap budaya perusahaan atau organisasi sehingga dapat meningkatkan laju dan efisiensi dari proses pengembangan produk. Tujuan dari QFD tidak hanya memenuhi sebanyak mungkin harapan pelanggan, tapi juga berusaha melampaui harapan-harapan pelanggan sebagai cara untuk berkompetensi dengan para pesaingnya, sehingga diharapkan dapat memperoleh kepuasan dari konsumen dan selalu menginginkannya kembali.

2.2  Tahapan Quality Function Deployment

Implementasi QFD terdiri dari tiga tahap, dimana seluruh kegiatan yang dilakukan pada masing-masing tahapan dapat diterapkan seperti layaknya suatu proyek, ketiga tahapan tersebut adalah (Lou Cohen, 1995)[5] :

1.      Tahap pengumpulan Voice of Customer (VOC).
Proses QFD dimulai dengan mengkaji dan mendengarkan pelanggan untuk menentukan karakteristik dari suatu produk. Melalui riset pemasaran, kebutuhan produk dan prioritas dari konsumen didefinisikan dan dirincikan dalam kategori yang disebut atribut pelanggan (customer atributes). Misalnya, produsen kendaraan ingin memperbaiki desain pintu mobil. Melalui survei pelanggan dan wawancara, perusahaan menentukan dua atribut pelanggan yang penting, yang menginginkan jendela mobil yang tinggal terbuka dan mudah ditutup dari luar. Setelah atribut pelanggan didefinisi, mereka diukur berdasarkan kepentingan relatif mereka bagi pelanggan. Berikutnya, konsumen diminta untuk membandingkan dan memberi nilai pada produk perusahaan dengan produk kompetitor. Proses ini membantu perusahaan menentukan karakteristik produk yang penting bagi konsumen dan memulai produknya terhadap yang lain.[6]

2.      Tahap penyusunan House of Quality (HOQ).
Penerapan metode QFD dalam proses perancangan produk dan jasa diawali dengan pembentukan matriks perencanaan produk atau sering disebut sebagai House of Quality (rumah kualitas). Matriks ini adalah upaya untuk mengkonversi voice of costumer secara langsung terhadap persyaratan spesifikasi teknis dari produk atau jasa yang dihasilkan. Perusahaan akan berusaha mencapai persyaratan teknis yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dengan sebelumnya melakukan benchmarking terhadap produk pesaing untuk mengetahui posisi-posisi relatif produk kompetitor yang ada di pasaran.

Karakteristik produk yang penting dan tujuan perbaikan secara bersama-sama disetujui dan dirinci pada house of quality tersebut. Proses ini mendorong departemen yang berbeda bekerja secara detail bersama-sama dan menghasilkan suatu pemahaman yang lebih. Manfaat penting dari house of quality adalah membantu kelompok fokus untuk membangun suatu produk yang memuaskan pelanggan.









a.       Matriks 1
Digunakan untuk membandingkan persyaratan pelanggan dengan ciri-ciri teknikal produk berhubungan.
b.      Matriks 2
Dipergunakan untuk membandingkan ciri-ciri teknikal pada Matriks 1 dengan teknologi terapan yang berhubungan. Matriks 1 dan 2 menghasilkan informasi yang dibutuhkan guna menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait kebutuhan pelanggan.
c.       Matriks 3
Digunakan untuk membandingkan teknologi terapan dari Matriks 2 dengan proses pemanufakturan yang berhubungan. Matriks ini bermanfaat dalam mengidentifikasi variabel-variabel penting dalam proses pemanufakturan.
d.      Matriks 4
Bermanfaat untuk membandingkan proses pemanufakturan dari Matriks 3 dengan proses pengendalian kualitas yang berhubungan. Matriks ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk mengoptimalisasikan proses.
e.       Matriks 5
Dipergunakan untuk membandingkan proses pengendalian kualitas dengan proses SPC yang berhubungan. Matriks ini memastikan bahwa parameter dan variabel proses yang tepat yang digunakan.
f.       Matriks 6
Matriks ini digunakan untuk membandingkan parameter SPC (statistical process control) dengan spesifikasi yang telah dikembangkan untuk produk akhir. Pada matriks ini dilakukan penyesuaian untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan merupakan produk yang dibutuhkan pelanggan. Proses QFD menjamin bahwa semua sumber daya digunakan secara optimal dalam rangka memaksimumkan peluang organisasi untuk memenuhi atau melampaui persyaratan pelanggan.

3.      Tahap analisa dan implementasi.
Tahap analisa dan interpretasi merupakan tahap teknis dan implementasi QFD. Disini dilakukan analisis dan interpretasi terhadap rumah kualitas yang sudah disusun pada tahap sebelumnya.
Proses implementasi QFD harus sistematis. Dalam implementasi tersebut ada enam langkah yang biasanya digunakan, yaitu[7]:
a.       Membentuk tim proyek
Tim proyek dibentuk berdasarkan sifat proyek yang akan ditangani. Apakah tim tersebut akan menyempurnakan produk yang sudah ada atau mengembangkan produk baru. Bila produk yang sudah ada akan disempurnakan maka tim tersebut harus terdiri atas personil dari departemen pemasaran, perekayasaan, kualitas, dan pemanufakturan. Bila produk baru akan dikembangkan maka wakil-wakil dari departemen riset dan pengembangan harus dilibatkan pula. Setiap anggota tim perlu memahami tujuan tim dan peranan mereka dalam tim tersebut. Mereka juga perlu mendapatkan dukungan dari para penyelia nya.
b.      Menyusun prosedur pemantauan
Manajemen perlu memantau setiap kemajuan yang dicapai tim proyek. Agar pemantauan dapat dilakukan dengan baik maka dibutuhkan perencanaan dan pengembangan prosedur pemantauan. Ada tiga pertanyaan yang perlu dijawab dalam rangka melakukan hal tersebut:
c.       Memilih proyek
Pada permulaan lebih baik dimulai dengan proyek perbaikan/penyempurnaan daripada proyek pengembangan produk baru. Proyek perbaikan memiliki keuntungan berupa tersedinya informasi mengenai produk yang sudah ada dan telah adanya pengalaman yang berhubungan dengan produk bersangkutan. Bila tim QFD baru menangani produk baru, maka setiap anggota tim akan menghadapi terlalu banyak hal yang baru, yaitu mengenai QFD itu sendiri, informasi dari pelanggan, serta informasi mengenai produk yang akan dikembangkan.
d.      Menyelenggarakan pertemuan untuk memulai QFD
Pertemuan ini merupakan pertemuan resmi tim yang diadakan untuk pertama kalinya. Dalam pertemuan tersebut ada beberapa hal yang perlu dikerjakan, yaitu :
·         Mengupayakan agar semua peserta memahami misi tim
·         Mengupayakan agar semua peserta memahami peranannya masing-masing dan peranan rekan-rekannya
·         Menyusun parameter-parameter (lamanya, waktu, dan frekuensi pertemuan).
e.       Melatih tim

Sebelum memulai proyek, semua anggota tim perlu diberi pelatihan asas-asas atau fundamental QFD. Anggota tim perlu mempelajari cara menggunakan berbagai alat kualitas dan alat-alat spesifik seperti diagram afinitas, interrelationship digraph, tree diagram, dan anggota tim juga harus memahami cara kerja QFD sebagai suatu proses.
f.       Mengembangkan matriks-matriks
Bila setiap anggota tim telah memahami QFD, alat-alat QFD, dan format suatu matriks QFD, maka proses pengembangan matriks-matriks dapat dimulai. Matriks pertama membandingkan persyaratan pelanggarn dengan ciri-ciri teknikal produk. Hasil dari pengembangan matriks pertama adalah suatu ringkasan kebutuhan/persyaratan pelanggan dan suatu dokumen konsep yang menggambarkan ciri-ciri produk yang harus ada agar dapat memenuhi harapan pelanggan.
Matriks kedua membandingkan ciri-ciri teknikal dan teknologi terapan. Matriks ketiga membandingkan teknologi terapan dan proses pemanufakturan. Matriks keempat membandingkan proses pemanufakturan dan proses pengendalian kualitas. Matriks kelima membandingkan proses pengendalian kualitas dan pengendalian proses statistikal. Sedangkan matriks terakhir membandingkan pengendalian proses statistikal dan spesifikasi produk akhir. Dalam mempersiapkan semua matriks ini, alat-alat spesifik QFD digunakan sesuai dengan kebutuhan.

2.3  Manfaat Quality Function Deployment

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari QFD bagi perusahaan yang berusaha meningkatkan daya saingnya melalui perbaikan kualitas dan produktivitasnya secara berkesinambungan.[8]
1.      Fokus pada Pelanggan
Organisasi TQM merupakan organisasi yang berfokus pada pelanggan. QFD memerlukan pengumpulan masukan dan umpan balik dari pelanggan. Informasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sekumpulan persyaratan pelanggan yang spesifik. Kinerja organisasi dan pesaing dalam memenuhi persyaratan tersebut dipelajari, sehingga organisasi dapat mengetahui sejauh mana mereka dan pesaingnya memenuhi kebutuhan para pelanggan.
2.      Efisiensi Waktu
QFD dapat mengurangi waktu pengembangan produk karena memfokuskan pada persyaratan pelanggan yang spesifik dan telah didentifikasi dengan jelas. Oleh karena itu tidak terjadi pemborosan waktu untuk mengembangkan ciri-ciri produk yang tidak atau hanya memberikan sedikit nilai (value) kepada pelanggan
3.      Orientasi Kerja Sama Tim (teamwork-oriented)
QFD merupakan pendekatan kerja sama tim. Semua keputusarn dalam proses berdasarkan kesepakatan dan dicapai melalui diskusi mendalam. Oleh karena setiap tindakan, perlu diidentifikasi sebagai bagian dari proses. Sehingga setiap individu memahami posisinya yang paling tepat dalam proses tersebut, hal ini mendorong kerja sama tim yang lebih kokoh.
4.      Orientasi pada dokumentasi
Salah satu produk yang dihasilkan dari proses QFD adalah dokumen lengkap mengenai semua data yang berhubungan dengan segala proses yang ada dan perbandingannya dengan persyaratan pelanggan. Dokumen ini berubah secara konstan setiap kali ada informasi baru yang dipelajari dan informasi lama yang dibuang. Informasi terbaru mengenai persyaratan pelanggan dan proses internal, sangat berguna bila terjadi pergantian.

2.4  Contoh Penggunaan QFD Pada Perusahaan

Adanya permintaan produk AQUA Gelas yang fluktuatif, membuat PT. Tirta Investama perlu mengetahui apa saja yang seharusnya dilakukan. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka salah satu cara yang dilakukan untuk membantu pihak manajemen adalah melakukan penelitian dengan pengembangan metode QFD. Analisa dilakukan dengan mengetahui atribut yang dibutuhkan oleh pelanggan, tingkat kepuasan pelanggan dan perbandingannya dengan tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk lain. Berikut adalah House of Quality dari PT. Tirta Investama.
1.      Tahap Pengumpulan Suara Pelanggan (Voice of Customer)
Suara pelanggan yang didapat dari hasil pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif, sehingga dapat diketahui atribut-atribut pelanggan untuk mengetahui tingkat kepentingan dan kepuasan konsumen terhadap produk PT. Tirta Investama.
2.      Tahap Pembuatan House of Quality Respon Teknis
Pada tahap ini tim akan memberikan/memunculkan solusi-solusi untuk memenuhi keinginan pelanggan. Atau dengan kata lain, solusi yang ditawarkan merupakan respon (secara teknis) terhadap voice of the customer untuk dapat memenuhi kepuasan pelanggan.
3.      Relationship Matrix
Untuk mengetahui sejauh mana respon teknis tersebut dapat memenuhi kebutuhan pelanggan melalui simbol-simbol seperti berikut  :




  






           
4.      Technical Matrix
Membandingkan dengan produk pesaing menggunakan benchmarking. Dari data yang dihasilkan, dapat diketahui bahwa nilai benchmarking produk air minum kemasan pada VIT Gelas 240 ml hampir sebanding dengan AQUA Gelas 240 ml. maka perlu adanya beberapa peningkatan pada respon teknis untuk mempertahankan kualitas produk dalam rangka memenuhi kepuasan pelanggan.







5.      Prioritas dan Kontribusi
Semakin besar nilai prioritas ini semakin besar pula konstribusi respon teknis tersebut dalam memenuhi kepuasan konsumen.      






6.      Target
Bagaimana respon teknis yang harus dicapai sehubungan dengan kebutuhan konsumen dan performansi pesaing. 

      
   

   Sebagai akhir dari seluruh tahapan Quality Function Deployment (QFD) dan untuk mengetahui kebijakan perusahaan dalam melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas produk sesuai dengan keinginan pelanggan, maka perlu diambil kebijakan ataupun langkah-langkah dari pihak perusahaan untuk dapat memenuhi keinginan pelanggan yang disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.





3.1  Kesimpulan

Model QFD dapat diterapkan untuk pengembangan tipe produk atau jasa dan membantu perusahaan untuk mengembangkan strategi untuk mencapai kepuasaan pelanggan. QFD digunakan untuk memperbaiki proses, perencanaan, mengatasi permasalahan dalam suatu tim, serta membantu mengadakan perbaikan terhadap budaya perusahaan atau organisasi sehingga dapat meningkatkan laju dan efisiensi dari proses pengembangan produk. Tujuan dari QFD tidak hanya memenuhi sebanyak mungkin harapan pelanggan, tapi juga berusaha melampaui harapan-harapan pelanggan sebagai cara untuk berkompetensi dengan para pesaingnya, sehingga diharapkan dapat memperoleh kepuasan dari konsumen dan selalu menginginkannya kembali.






                                                        DAFTAR PUSTAKA

Adriantantri, Emmalia, “APLIKASI METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DALAM USAHA MEMENUHI KEPUASAN PELANGGAN  TERHADAP PRODUK AQUA GELAS 240 ML PADA PT. TIRTA INVESTAMA PANDAAN”, Jurusan Teknik Industri, 2008, pp. 37–44.
Drs. Amin Widjaja Tunggal. Ak.,MBA, Manajemen Mutu Terpadu, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993.
Jono, “Implementasi Metode QFD Guna Meningkatkan Kualitas Kainn Batik Tulis”, Jurnal Teknik Industri, vol. 5, no. 1, 2006, pp. 33–8 [http://dx.doi.org/e].
Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc., Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk, Bogor: Grasindo, 2004.
Rahmatika, N.H., “Penerapan QFD untuk mengetahui tingkat kepuasaan konsumen produk biskuit di PT. Arnott’s Indonesia”, Skripsi, Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2008.
Tjiptono, Fandy and Anastasia Diana, Total Quality Management, Yogyakarta: ANDI, 2002.

 




[1] Fandy Tjiptono and Anastasia Diana, Total Quality Management (Yogyakarta: ANDI, 2002), 113.
[2] Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc., Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk (Bogor: Grasindo, 2004), 34.
[3] Jono, “Implementasi Metode QFD Guna Meningkatkan Kualitas Kainn Batik Tulis”, Jurnal Teknik Industri, vol. 5, no. 1 (2006), pp. 33–8.
[4] N.H. Rahmatika, “Penerapan QFD untuk mengetahui tingkat kepuasaan konsumen produk biskuit di PT. Arnott’s Indonesia”, Skripsi (Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2008).
[5] Jono, “Implementasi Metode QFD Guna Meningkatkan Kualitas Kainn Batik Tulis”.
[6] Drs. Amin Widjaja Tunggal. Ak.,MBA, Manajemen Mutu Terpadu (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1993), 37.
[7] Tjiptono and Diana, Total Quality Management, 123.
[8] Ibid, hlm 114.

Komentar